Sebelum bekerja di tempat yang sekarang, aku melihat dunia dalam dua sisi, hitam dan putih. Bagiku mereka yang hitam adalah hitam, dan demikian pula sebaliknya, yang putih adalah putih.
Di luar umurku yang bisa dikatakan dewasa, menurut kartu identitas dan menurut pemerintah yang tidak adil ini, pola pikirku bisa dikatakan sebagai sesuatu yang naif, childish, dan sederet istilah lainnya.
Sebetulnya kurang tepat kalau dikatakan aku tidak mampu melihat dunia dalam keabu-abuannya.Lebih tepat dikatakan bahwa keabu-abuan itu rumit, kompleks, dan aku membenci segala hal yang kompleks.
Tetapi setelah bekerja di tempat yang sekarang, dan melihat berbagai wajah manusia di balik topeng mereka, aku merasa aku akan mati di dalam, dying inside, kalau aku mempertahankan pola pikir lama. Jadi dengan getir aku melepaskan kenaifan dan mencoba untuk survive.
Bahwa dunia fantasi yang kukira hanya berkaitan dengan kreativitas, ternyata dibangun oleh dasar bisnis, bahkan bisnis yang tamak, dan haus uang. Fantasi yang kucintai segenap hati dari segi sastra, ternyata adalah produk franchise yang difungsikan sebagai mesin uang.
Sekarang cukuplah aku melihat batasannya. Sekarang akhirnya aku mengerti, dunia tidak terbagi atas orang baik dan penjahat.
Dear Selenette…
Aku bangga sama kamu. Meski pait tapi akhirnya, kamu berani mencoba ngelihat semuanya dari dua sisi. Hal itu akan membantumu survive, sobat…
Kalo di kenyataan gak ada orang yang black and white..semuanya grey-character. Soalnya setiap orang punya pemikiran yang berbeda, so hal baik gak selamanya baik di mata semua orang.
Kayak yang kamu bilang dari lagunya Dolores O’Riordan “Life is more intricate than it seems”