Feeds:
Posts
Comments

Radiosomnia

So I listen to the radio…to all the songs we used to know.

The Corrs

Sejak SMA, aku punya kebiasaan untuk tidur larut malam. Sebelum tidur, aku mendengarkan berbagai stasiun radio. Umumnya program yang kudengarkan adalah curhat yang melibatkan psikolog, tips-tips lifeskill, dan tangga lagu-lagu.

Sebetulnya kebiasaan ini berakar dari keenggananku untuk menerima fakta bahwa hari esok pasti datang. Alasannya adalah hari esok mungkin saja lebih berat dari hari yang telah berlalu. Rasanya sia-sia kalau kuhabiskan malam yang panjang dengan tidur lebih awal, walaupun besok pagi harus bekerja. Tidur awal dan mendadak bangun di pagi hari bagiku sama sekali bukan hal yang memberi spirit. Justru aku merasa lemas kalau harus langsung “berhadapan dengan dunia”.

Anehnya, selain menemani jam-jam insomniaku, radio juga menemaniku di pagi hari untuk “memberi warna” di pagi yang masih kurang berenergi. Pernah salah satu kenalanku bertanya heran, “Sebetulnya radio yang menemanimu atau kamu yang menemani radio?”

The Night Sky adalah hits band asal UK Keane yang dirilis tahun 2007 bagi organisasi NGO “War Child”, menceritakan tentang harapan seorang anak korban perang, akan pulihnya keadaan di negerinya. Lagu ini minim distorsi, seperti lagu-lagu Keane umumnya, tapi yang membedakan dari lagu-lagu Keane yang kukenal sebelum ini, temanya lebih sederhana dan lugas. Intinya adalah doa dan harapan… Lagu ini membuatku bersyukur atas kehidupanku sekarang, apalagi pada baris di mana si anak berharap dia bisa sekedar membaca dan tidur santai… My life is wonderful, Thank God.


Terjemahan Bebas:“Langit Malam”

Suatu saat kelak, aku akan kembali ke jalan tempat kita tinggal dulu

Aku akan aman dari bunyi-bunyian ribut yang berjatuhan di sekitarku

Bukalah kembali bar-bar

Bukalah kembali pasar-pasar

Bukalah kembali bank-bank

Bukalah kembali gereja-gereja…

Dan kita akan membebaskan kota ini dari orang-orang yang mencoba menghancurkannya

Dan kemudian, hanya akan ada cahaya kota yang mencerahkan langit malam

Dan takkan ada lagi suara-suara

Sudah terlalu lama kita meringkuk bersembunyi

Oh, akan kuberikan apa saja agar bisa berdiri di halte bus

Atau sibuk membaca apa saja di toko buku,

Dan bisa tidur, dan selalu hidup dalam ketenangan

Dan kita akan membebaskan kota ini dari orang-orang yang mencoba menghancurkannya

Dan kemudian, hanya akan ada cahaya kota yang mencerahkan langit malam

Dan aku akan terbebas dari orang-orang yang mencoba menguburku

Dan hanya kembang apilah yang kelak akan menyinari langit malam Dan seluruh dunia akan melihatnya


Lirik aslinya bisa dibaca di da Rockwilder Weblog.  Videonya bisa ditonton di sini nih…

Kenyataan dan Angan-Angan

Sebelum bekerja di tempat yang sekarang, aku melihat dunia dalam dua sisi, hitam dan putih. Bagiku mereka yang hitam adalah hitam, dan demikian pula sebaliknya, yang putih adalah putih.
Di luar umurku yang bisa dikatakan dewasa, menurut kartu identitas dan menurut pemerintah yang tidak adil ini, pola pikirku bisa dikatakan sebagai sesuatu yang naif, childish, dan sederet istilah lainnya.

Sebetulnya kurang tepat kalau dikatakan aku tidak mampu melihat dunia dalam keabu-abuannya.Lebih tepat dikatakan bahwa keabu-abuan itu rumit, kompleks, dan aku membenci segala hal yang kompleks.

Tetapi setelah bekerja di tempat yang sekarang, dan melihat berbagai wajah manusia di balik topeng mereka, aku merasa aku akan mati di dalam, dying inside, kalau aku mempertahankan pola pikir lama. Jadi dengan getir aku melepaskan kenaifan dan mencoba untuk survive.

Bahwa dunia fantasi yang kukira hanya berkaitan dengan kreativitas, ternyata dibangun oleh dasar bisnis, bahkan bisnis yang tamak, dan haus uang. Fantasi yang kucintai segenap hati dari segi sastra, ternyata adalah produk franchise yang difungsikan sebagai mesin uang.

Sekarang cukuplah aku melihat batasannya. Sekarang akhirnya aku mengerti, dunia tidak terbagi atas orang baik dan penjahat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.